Senin, Maret 16, 2009

Selasa, 17 Maret 2009
PJI dan AJI Tolak Dana Bantuan APBD

SOREANG,(GM) - Dua organisasi kewartawanan, Perhimpunan Jurnalis Indonesia Jawa Barat (PJI Jabar) dan Aliansi Jurnalistik Independen (AJI), menolak dana bantuan kewartawanan yang dianggarkan APBD Kab. Bandung 2009. Penolakan itu dilakukan karena hal tersebut dianggap melanggar kode etik wartawan.

Ketua AJI Bandung, Agus Rakasiwi mengatakan, di mana pun AJI tidak pernah mengajukan dana bantuan dari APBD. "AJI tidak pernah mengajukan bantuan dari APBD di daerah mana pun, termasuk di Kab. Bandung. Kalaupun tertera ada dana untuk AJI, berarti bukan bagian dari kami," ketanya kepada wartawan, Senin (16/3).

Agus mengatakan, penolakan terhadap bantuan APBD bukan hanya dilakukan di Kab. Bandung. Sebelumnya AJI juga sempat menolak dana bantuan yang sudah dianggarkan dalam APBD Kota Bandung. "Bukan hanya di Kab. Bandung, di Kota Bandung pun kita sudah tolak," tambahnya.

Dikatakan Agus, wartawan tugasnya mengawasi kinerja DPRD dan pemerintahan dalam melakukan pembangunan di daerah. "Kalau wartawannya sendiri menerima bantuan dari APBD, bagaimana wartawan bisa mengawasi roda pemerintahan? Makanya kita tolak dan berharap dewan menghapusnya dari APBD," ujarnya.

Hal yang sama dikatakan Sekjen PJI Jabar, Iwa Ahmad Sugriwa. Menurutnya, adanya bantuan dari APBD melanggar kode etik wartawan. "Saya tidak setuju kalau ada bantuan buat organisasi wartawan yang diambil dari APBD," ujarnya.

Sementara itu, Ketua PWI Kab. Bandung, Rahmat Sudarmaji mengaku tidak tahu ada dana bantuan organisasi kewartawanan dari APBD. "Saya belum tahu ada anggaran dari APBD. Kita juga belum pernah mengajukan dana bantuan tersebut," katanya.

Menurut Rahmat, jika memang ada bantuan, ia akan melihatnya secara profesional. "Ya, kita lihat saja secara profesional. Salah satunya, buat apa dulu dana tersebut? Tapi yang pasti, saya belum tahu masalah dana bantuan APBD tersebut," katanya.

Arifin Sobari, salah seorang anggota Pangar DPRD Kab. Bandung, mengatakan, adanya anggaran buat wartawan karena eksekutif mengajukannya. "Eksekutif yang mengajukan anggaran tersebut karena katanya organisasi tersebut terdaftar di Kesbang Linmas. Makanya kita setujui," ujarnya.

Sementara berdasarkan data yang diperoleh "GM", di Kab. Bandung ada sekitar 14 organisasi kewartawanan yang akan mendapatkan bantuan dari APBD 2009. Besarnya bantuan tersebut bervariasi, antara Rp 6,27 juta-Rp 15 juta. (B.97/Dadang Setiawan/Galamedia)**

Minggu, Desember 21, 2008
















Bank Muamalat Bidik 2 Juta TKI

Minggu, 21 December 2008
BANDUNG (SINDO) – Bank Muamalat berencana membuka kantor cabang pertamanya di luar negeri dengan menjadikan tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia sebagai pasar utama.

Asisten Direktur Bisnis Syariah Internasional Bank Muamalat Avantiono Hadhianto mengatakan, selama ini jembatan keuangan antara dua negara itu diwakili oleh bank-bank yang berkantor di Malaysia. Dengan ekspansi pasar ini, dia berharap lalu lintas perputaran uang bisa dikontrol oleh bank dari Indonesia.

”Saya kira dengan kita membidik pasar TKI yang ada di Malaysia saja itu sudah lebih dari mencukupi. Sedikitnya ada sekitar 2 juta TKI yang saat ini berada di Malaysia. Dengan cabang kami yang nantinya beroperasi di sana, bisa memudahkan TKI untuk melakukan transaksi keuangan dengan keluarga di Indonesia,” kata Avantiono seusai menghadiri acara Workshop Krisis Financial Global dan Perbankan Syariah yang digelar Bank Muamalat dan Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) di Malabar Room Hotel Permata Kota Bandung,akhir pekan lalu.

Asisten Direktur Micro Finance Bank Muamalat Muchtar Manto menuturkan,sektor usaha mikro yang saat ini mulai menggeliat harus mendapatkan perhatian dan suntikan dana yang lebih baik untuk mengembangkan perekonomian masyarakat. Pasalnya, sebagian besar sektor usaha yang ada di Indonesia bergerak di sektor usaha mikro.

”Data yang saya peroleh menunjukkan bahwa 90% pengusaha yang ada di Indonesia bergerak di sektor mikro. Sehingga, pada dasarnya sektor usaha mikro ini memiliki potensi yang sangat luar biasa dan membutuhkan perhatian serta suntikan dana agar bisa terus berkembang,”kata dia. Ekspansi beberapa bank milik pemerintah maupun bank swasta yang memiliki tingkat kemapanan cukup menjanjikan memberikan angin segar bagi usaha mikro. Namun, di sisi lain kehadiran mereka pun tidak bisa dilepaskan dari dampak negatif.

Muchtar mengungkapkan, dengan masuknya bank yang memiliki sektor modal lebih baik, lambat laun akan mengancam eksistensi lembaga keuangan mikro di sektor ini.Menurut dia,pihak perbankan pun tidak salah ketika melakukan ekspansi ini karena regulasi yang berlaku pun memperbolehkannya. (irvan christianto/seputar indonesia/sindo jabar)

Senin, November 10, 2008

Merger BUMN
23 Perusahaan Masih Merugi pada Tahun 2008
Senin, 10 November 2008 | 00:43 WIB

BANDUNG, KOMPAS - Pada tahun 2008, diproyeksikan terdapat 23 badan usaha milik negara yang masih merugi. Tahun lalu, 33 BUMN mengalami kerugian dengan jumlah total sekitar Rp 6,6 triliun.

Tahun 2006, jumlah perusahaan BUMN yang rugi sebanyak 38 dengan total nilai kerugian Rp 3,8 triliun. Hal itu dikatakan Sekretaris Kementerian Negara BUMN Said Didu pada workshop bertema ”Privatisasi, Profitisasi, dan Konsolidasi BUMN”, yang diselenggarakan Perhimpunan Jurnalis Indonesia, Sabtu (8/11) di Bandung.

Said menjelaskan, industri kertas, farmasi, serta perkebunan merupakan bidang-bidang usaha yang akan dimerger pertama kali karena merugi.

Penggabungan sejumlah BUMN ke dalam bentuk perusahaan induk (holding company) akan dilakukan mulai tahun 2009. Rencananya, sekitar 140 BUMN yang ada sekarang akan menjadi 25 perusahaan.

Seluruh persiapan terkait ketentuan peraturan dan perundang-undangan tentang penggabungan BUMN akan diselesaikan tahun ini.

”Semakin cepat semakin baik. Hal ini untuk menyelamatkan sejumlah BUMN yang kinerjanya merugi,” ungkapnya.

Said Didu mengakui, masih terdapat kendala hukum terkait merger atau akuisisi BUMN. Namun, saat ini pihaknya bersama PT Perusahaan Pengelola Aset tengah mencari celah untuk menyiasati kondisi tersebut.

Sementara itu Ketua Komite Kebijakan Publik Kementerian Negara BUMN Fachry Ali mengatakan, salah satu penyebab belum optimalnya kinerja BUMN karena belum ada pasal tentang tata cara penilaian terhadap kinerja BUMN; sebelum diambil keputusan apakah BUMN itu akan digabung, dilebur, diambil alih, atau dibubarkan.

Selain itu, lanjut Fachry, juga belum dirancang pasal-pasal yang memuat sanksi bagi BUMN dan pemerintah apabila tidak menjalankan tugas sesuai dengan aturan yang ada.

Pengamat ekonomi dari Universitas Padjadjaran Bandung, Ina Primiana, menyarankan supaya pemetaan BUMN dilakukan ke dalam beberapa sektor.

”Pertama, kelompok BUMN yang bergerak di sektor usaha yang kompetitif, seperti hotel, niaga, dan farmasi. Kedua, BUMN yang bersifat oligopolistik, seperti telekomunikasi dan pertambangan. Ketiga, BUMN yang bersifat monopolistik, seperti pelabuhan, kereta api, dan listrik,” papar Ina Primiana. (GRE)
Di Antaranya PT PLN (Persero)
10 BUMN Papan Atas Merugi Rp 6 Triliun

SETRASARI,(GM) - Sebanyak 10 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang masuk kategori papan atas menderita kerugian dalam jumlah besar. Total kerugian yang diderita 10 BUMN papan atas itu mencapai angka Rp 6 triliun lebih.

Kesepuluh BUMN yang menderita kerugian paling besar adalah PT PLN (Persero), PT Djakarta Lyod, PT Merpati Nusantara Airlines, Perum Bulog, PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni), Perum Pembangunan Perumahan Nasional (Perumnas), PT Kertas Kraft Aceh, PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari, PT Perkebunan Nusantara XIV, dan PT Kertas Leces.

Demikian disampaikan Sekretaris Kementerian Negara BUMN, Said Didu saat menjadi pembicara dalam workshop BUMN angkatan ke-1 dengan tema "Pemahaman Jurnalis tentang Privatisasi, Profitisasi, dan Konsolidasi BUMN" yang diselenggarakan Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) di Garden Permata Hotel, Setrasari, Kota Bandung, Sabtu (8/11).

"BUMN yang merugi merupakan masalah krusial bagi Kementerian Negara BUMN. Untuk menyehatkan BUMN yang merugi, telah ditempuh berbagai kebijakan berupa penggabungan BUMN, restrukturisasi BUMN rugi yang masih punya prospek menjanjikan dan bisa direstrukturisasi secara mandiri serta langkah pamungkas dengan melikuidasi BUMN yang dianggap sudah tidak bisa lagi direstrukturisasi," papar Said.

Sapi Perah

Pengamat ekonomi Ina Primiana Syinar yang juga Guru Besar Fakultas Ekonomi Unpad memandang keberadaan BUMN menimbulkan maraknya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang menyebabkan terjadinya inefisiensi. Salah satu penyebab inefisiensi adalah intervensi pemerintah yang berlebihan sehingga menjadi beban BUMN.

"Bentuk intervensi pemerintah lainnya adalah dalam bentuk tekanan politik dalam rangka pergantian manajemen dan penunjukan pihak ketiga (supplier). Kondisi itulah yang menyebabkan BUMN saat ini menjadi sapi perah penguasa, parpol, dan legislatif," kata Ina.

Diingatkannya, setiap bentuk intervensi pemerintah harus promarket, tidak diskriminatif kepada kepentingan orang, golongan ataupun kelompok tertentu.

Menurut Ina, penyebab utama kinerja BUMN kurang baik antara lain tidak efisien dan tidak profesional dalam pengelelolaan, sederetan regulasi, dan tumpang tindih peran antara Kementerian BUMN, dan departemen teknis.

"Reformasi dalam tubuh BUMN memang dibutuhkan, tapi hendaknya bukan bertujuan untuk menutup defisit anggaran saja. Terpenting dalam tujuan pembenahan yaitu meningkatkan efisiensi dengan memperbaiki alokasi dan penggunaan sumber daya, perubahan harga dan insentif, perbaikan manajemen, dan meningkatkan kompetisi," paparnya.

Berdasarkan data 2007, jumlah BUMN sebanyak 139 BUMN. BUMN dengan kategori sangat sehat berjumlah 11 BUMN, kategori sehat 95 BUMN, kategori kurang sehat 23 BUMN, dan kategori tidak sehat 7 BUMN. (B.104/B.99)**

Senin, Juni 16, 2008

Senin , 21 April 2008 ,
Hanya Efektif untuk Jangka Pendek
Operasi Pasar Tak Berpihak pada Petani
M Barir

BANDUNG, TRIBUN Tidak stabilnya harga bahan pokok yang terjadi akhir akhir ini adalah dampak kebijakan fiskal yang diambil oleh pemerintah masih bermasalah. Kebijakan operasi pasar dinilai hanya efektif untuk jangka pendek, tidak dapat mengatasi akar permasalahan, dan masalah harga tidak stabil itu bakal datang secara berulang selama akar permasalah tidak dibenahi.

"Kebijakan yang diambil itu menguntungkan atau hanya berpihak kepada importir dan pengusaha, tidak berdampak pada kesejahteraan para petani," kata pengamat ekonomi Unpad Ina Primiana Sagir di depan forum Perhimpunan Jurnalis Indonesia di Hotel Garden Permata Bidakara Bandung, Minggu (20/4).


Ketidakstabilan harga, kata Ina, terjadi bukan karena tidak efektifnya kebijakan moneter, melainkan karena ketidakberesan yang terjadi pada kebijakan fiskal dan sektor riil. Sementara itu, penyelesaian yang diambil pemerintah hanya bersifat jangka pendek.


Salah satu kebijakan pemerintah yang ditempuh saat ini adalah operasi pasar. Menurut Ina, efektivitas kebijakan operasi pasar itu hanya untuk jangka pendek. Selain itu, operasi pasar tidak berdaya memecahkan akar permasalahan terjadinya ketidakstabilan harga bahan pokok tersebut. Padahal, di sisi lain, kebijakan operasi pasar tersebut juga membutuhkan biaya yang cukup besar.


Meski pemerintah telah membuat kebijakan untuk mengatasi, masalah ketidakstabilan harga ini tidak pernah tertuntaskan dan terus terusan terjadi secara berulang. "Masih akan terjadi kenaikan harga di waktu yang akan datang karena akar permasalahannya tidak pernah terpecahkan," tuturnya.
Lalu, apa sebenarnya akar permasalahan yang terjadi sehingga harga bergerak tidak stabil? Ina menjelaskan, akar permasalahannya adalah tidak dimilikinya kemandirian pangan dan dalam memenuhi kebutuhan pangan ini Indonesia tergantung pada impor.


"Selain itu, adanya ketidaksiapan penyediaan input bahan baku dari dalam negeri dan ketidakpercayaan terhadap penyediaan bahan baku hasil produksi dalam negeri oleh pengusaha industri manufaktur kita," sambungnya. (mba)

Bulan Depan Inflasi Masih Berlanjut

Darajat Arianto
BANDUNG, TRIBUN - Dalam penanganan inflasi di Indonesia, stabilitas harga pangan menjadi penting. Terutama komoditas yang strategis seperti beras dan minyak goreng, diperkirakan mampu mengurangi tekanan inflasi.
Demikian disampaikan Dr Hartadi A Sarwono, Deputi Gubernur Bank Indonesia, dalam Workshop Perbankan Angkatan VIII yang diadakan Perhimpunan Jurnalis Indonesia dan Dewan Pers, di Hotel Permata Bandung, Sabtu (19/4).
Hartadi menuturkan, inflasi yang tinggi akhir-akhir ini terjadi pada kelompok bahan makanan seperti minyak goreng dan cabai merah, sandang (emas), dan makanan jadi (mi dan beras).
"Jadi, inflasi di bulan mendatang diperkirakan masih meningkat dan terjadi pada kelompok bahan makanan serta kelangkaan minyak tanah dan elpiji. Karena itu, penangannya akan efektif jika dilakukan pada sisi penawaran," tutur Hartadi.
Menurutnya, perhitungan yang dilakukan BI menyimpulkan stabilitas harga terutama komoditas strategis dapat mengurangi tekanan inflasi secara efektif.
Stabilnya harga beras dan minyak goreng, misalnya, dapat mengurangi tekanan inflasi, yakni inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) 2006 sebesar 6,6 persen dapat berkurang menjadi 4,9 persen dan IHK 2007 6,6 persen dapat berkurang menjadi 5,6 persen jika harga beras dan minyak goreng stabil.
Demikian halnya dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat sebagai akibat perekonomian dunia dan harga komoditas dunia yang masih tinggi. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I/2008 berpotensi lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 6,35 persen. Hal ini juga dipengaruhi perlambatan permintaan domestik khususnya investasi.
Kenaikan harga berbagai komoditas baik langsung maupun tidak langsung dengan harga pangan dunia, tambah Hartadi, memicu ekspektasi inflasi yang lebih tinggi. Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK pada triwulan I/2008 tercatat 3,4 persen (quarter to quarter) atau 8,2 persen (year on year). (dar)

Minggu, April 27, 2008

25-04-2008 13:17 WIB
Catatan dari Workshop Perbankan, Perhimpunan Jurnalis Indonesia (3 Habis)
Kebijakan Diverensifikasi Pangan Perlu Diintensifkan

Media cetak dan elekronik nasional gencar memberitakan ancaman (sebagian pihak bahkan menyebutkan sudah) krisis pangan yang dialami negeri ini. Apa yang harus dilakukan pemerintah? Berikut pemikiran Siswono Yudo Husodo, mantan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) yang menjadi salah seorang pembicara sekaligus narasumber pada workshop itu.

“Membicarakan masalah pangan, dimensinya sangat luas,” ujar Siswono mengawali penyampaian masukannya kepada puluhan media di salah satu lobi Hotel Garden Permata Bandung.

Strategi pangan bagi Indonesia jangan hanya bertumpu pada beras. Indonesia adalah negara dengan potensi pangan yang besar. “Kita memiliki sumber karbohidrat dan protein yang sangat beragam dan sangat banyak yang bisa dimanfaatkan untuk pangan rakrat,” jelasnya.

Selain beras, Indonesia memiliki beragam sumber bahan pangan alternatif seperti sagu (yang terluas di dunia), ubi kayu, ubi jalar, jagung, sukun, talas dan lain-lain. Menurut Siswono, untuk jangka waktu yang sangat lama, potensi alternatif tersebut tidak diberdayakan, tapi masyarakatnya malah diseragamkan jadi pemakai beras.

“Sagu adalah potensi pangan yang dapat dikembangkan dengan cepat karena ketersediaannnya yang besar. Di dunia ini, terdapat 2 juta hektar hutan sagu, separuhnya ada di Indonesia, dan 0,9 juta hektar ada di Papua,” terang mantan Menkokesra pada kabinet era Orde Baru itu.

Siswono melihat, diverensifikasi pangan sesuai dengan kekayaan alam lokal perlu menjadi kebijakan pemerintah. Dan ini merupakan bagian yang sangat penting dari strategi pangan nasional.

“Pemerintah tidak boleh hanya konsentrasi soal beras, tapi juga harus memikirkan saudara-saudara di Papua dan Maluku yang mengandalkan sagu dan ubi jalar sebagai panganan pokoknya. Warga kita di NTT dan Madura dapat mengandalkan panganan berbasis jagung. Pisang juga dapat dipertahankan sebagai makanan pokok di beberapa bagian di Sulawesi,” paparnya.

Indonesia juga harus terus mengembangkan kualitas dan citra kuliner makanan tradisononal. Jika dibandingkan Jepang dan Thailand, kuliner Indonesia sangat lamban melaju.

“Meksiko membuat tepung jagung menjadi roti torlita. Orang jepang makan mie dari tepung ubi yang disebuat soba. Orang Cina di bagian selatan mengkonsumsi mie berbahan baku tepung beras bernama kwee tiau dan bihun atau kacang hijau bernama soon,” jelas dia. (*)

(Iman Saffir Rahman)
Sumber:RADAR BOGOR
Catatan dari Workshop Perbankan, Perhimpunan Jurnalis Indonesia (2)
Tekan Inflasi, BI Pilih Stabilkan Harga Pangan

Tekanan inflasi dunia dalam tiga bulan pertama tahun ini cenderung meningkat. Tren ini secara umum disebabkan tingginya harga komunitas dunia, terutama pangan dan energi. Kecenderungan ini berimbas langsung pada peningkatan indeks harga konsumtif (IHK) Indonesia pada triwulan pertama tahun ini.

Menurut Deputi Gubernur BI Bidang Moneter Hartadi A Sarwono, meningkatnya harga komunitas internasional memberikan tekanan pada inflasi inti. Disamping faktor ekternal inflasi IHK yang mencapai 3,4 persen (quarter to quarter) atau 8,17 persen (year on year) ini dipengaruhi faktor domestik seperti kelangkaan minyak tanah dan gangguan pasokan komuditas bahan makanan.

Dalam pertemuannya dengan para wartawan media cetak dan elektrinik, Hartadi mengungkapkan jika dikelompokan tingginya inflasi di Indonesia terjadi pada kelompok bahan makanan (minyak goreng dan cabe merah), sandang (emas) dan makanan jadi (mie instan dan nasi).

“Inflasi dalam bulan mendayang diperkirakan masih meningkat, dan masih terjadi pada kelompok bahan makanan serta kelangkaan minyak tanah dan elpiji. Karena tekanan ini bisa dikategorikan sebagai cost push inflation(tekanan dari sisi penawaran), maka penangananya akan lebih efektif jika dilakukan di sisi penawaran,” jelas doktor bidang moneter lulusan University of Oregon, Amerika Serikat itu.

BI sendiri gencar melakukan penanganan yang terstruktur terutama dengan melakukan stabilisasi harga, terutama komuditas strategis. Mereka mengklaim, stabilnya harga beras dan minyak goreng dapat mengurangi tekanan inflasi.

“Inflasi IHK 2006 sebesar 6,6 persen dapat berkurang menjadi 4,9 persen bila harga beras dan minyak goreng stabil. Begitu pula pada tahun berikutnyam dari 6,6 persen menjadi 5,6 persen. Ini akibat stabilisasi harga minyak goreng dan beras,” bebernya.

Stabilisasi harga melalui perbaikan distribusi pasokan masih sangat mungkin dilakukan. “Beras misalnya, perana badan penyangga seperti Bulog masih akan efektif dalam menjaga kebutuhan pasokan karena pada dasarnya stck beras yang ada masih mencukupi. Dengan stock beras yang cukup, Bulog dapat mendistribusikannya secara merata sesuai dengan kebutuhan ril pada saata dan daerah yang tepat,” jelas mantan kepala Perwakilan BI di Tokyo itu.

Nah, untuk mengatasi berbagai tekanan inflasi, pemerintah telah melakukan berbagai upaya. Diantaranya membentuk Tim Koordinasi Stabilisasi Pangan Pokok. Selain itu, mengeluarkan paket kebijakan stabilisasi pangan pokok yang meliputi komuditas beras, minyak goreng, tepung terigu, dan kedelai.

“Berdasarkan pemantauan BI sampai saat ini implementasi kebijakan stabilisasi pangan pokok berupatan intensif fiskal dan upaya peningkatan produksi dalam negeri telah menunjukan beberapa keberhasilan,” pungkasnya. (*)

(Iman Saffir Rahman)
Sumber: RADAR BOGOR
23-04-2008 17:23 WIB
Catatan dari Workshop Perbankan, Perhimpunan Jurnalis Indonesia (1)
Inflasi dan Nasi Kuning Rp50 Ribu per Porsi

Istlah “Inflasi” belakangan menjadi akrab di telinga masyarakat Indonesia. Bagaimana pengaruhnya bagi pertumbuhan ekonomi nasional, sehingga menyebabkan harga nasi kuning campur oreg tempe yang biasa kita konsumsi bisa melambung jadi Rp50 ribu?

Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) bekerjasama dengan Dewan Pers menggelar Workshop Perbankan Untuk Jurnalis di Grand Permata Hotel, Bandung Sabtu dan Minggu (19-20/4). Mereka menginginkan para peliput bidang ekonomi dan bisnis memiliki pengetahuan lebih soal dunia perbankan, terutama masalah pergerakan inflasi.

Nah, atas dasar itu PJI mengundang banyak narasumber yang kompeten, seperti Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dr Hartadi A Sarwono, mantan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudohusodo, Pengamat Ekonomi Rofikoh Rokhim, Ekonom Unpad Ina Primiana, anggota Dewan Pers Wikrama I Abidin, dan anggota Dewan Kehormatan Kode Etik PJI Andi Surudji.

Kegiatan ini diikuti puluhan wartawan cetak dan elektronik dari wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jogjakarta dan Jawa Timur. Menurut Ketua Umum PJI pusat Ismed Hasan Putro, even yang jarang dilakukan ini merupakan bukti nyata kepedulian PJI kepada insan pers nasional. Pada kesempatan itu pihaknya melantik kepengurusan daerah (pengda) PJI Jawa Barat periode 2008-2013 di bawah pimpinan Olih Solihin (Radar Bandung).

Sebagai Perekonomian terbuka yang baru saja pulih dari krisis, menurut Hartadi, negeri ini tidak pernah kebal dari perkembangan ekonomi dunia. Gejolak harga internasional itu “diperkuat” dampaknya oleh buruknya prasarana transportasi dan tingginya ekspektasi (perkiraan) inflasi para pelaku ekonomi akibat pengalaman masa lalu.

“Inflasi Maret 2008 yang diperkirakan lebih rendah dari bulan sebelumnya, justru melambung ke angka 0,95 persen (month-to-month) sehingga mengakumulasi inflasi di triwulan pertama ini pada tingkat 3,41 persen (year-to-year),” ungkap Hartadi.

Menurutnya, berbagai perkembangan eksternal seperti kenaikan harga komuditas dan melambatnya ekonomi global serta tekanan terhadap fiskal berpotensi menurunakan prospek pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan tekanan inflasi 2008 dari proyeksi sebelumnya. Apalagi hal tersebut masih berpotensi membruuk lagi seiring masih tingginya faktor risiko. Sehingga pada akhirnya bermuara pada kondisi perekonomian nasional, termasuk kenaikan harga barang-barang pokok.

Nah melihat kecenderungan tersebut, rasanya sinkron dengan fenomena ditengah-tengah berlangsungnya acara.

Saat itu, seorang rekan dari Cirebon M Ronna Anggiedatang ke hotel lebih awal dari peserta lainnya. Karena merasa lapar dia berniat sarapan pagi di coffee shop. Karena panitia tidak mengagendakan sarapan pagi, maka dengan terpaksa teman dari Radar Cirebon itu makan di tempat itu meski sempat diberitahu bakal terkena cash.

Menunya hanya sepiring nasi kuning dengan lauk oreg (tempe kering) dan kentang goreng plus secangkir teh hangat. Bergegas setelah selesainya, menuju kasir. Tapi dia kaget setelah tagihan yang harus ia bayar sebesar Rp50 ribu. Dengan berat hati, terpaksa harus membayar.

“Mungkin ini akibat inflasi ya. Tapi tidak apa-apa, yang penting saya mendapat ilmu dari orang-orang di bidangnya,” kata Ronna menghibur diri (*)

(Iman Saffir Rahman)

Sumber:RADAR BOGOR

Kamis, April 24, 2008

Jurnalis Masih Terpasung

Rabu, 23 April 08 - Latief

BANDUNG - Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI), Ismed Hasan Putro, memandang kesejahteraan jurnalis saat ini masih terlilit kapitalisme. Menurutnya, hak jurnalis sejauh ini selalu dipasung oleh pemilik modal bahkan belakangan muncul asumsi bahwa profesi wartawan adalah profesi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan dan tidak memiliki masa depan yang jelas. Lumrah jika ada kesan jurnalis tidak layak untuk mendapatkan kredit dari pihak perbankan.

"Musuh yang paling besar yang dihadapi kalangan jurnalis adalah kaum kapitalis atau pemilik modal yang dengan seenaknya memperlakukan jurnalis layaknya sapi perahan. Parahnya lagi pihak perbankan pun enggan mengucurkan kredit pada kalangan jurnalis dengan alasan jurnalis tidak memiliki masa depan yang jelas," katanya saat menghadiri kegiatan workshop perbankan angkatan ke VIII kerjasama antara PJI Bank Indonesia dan Dewan Pers di Hotel Grand Permata Bidakara Bandung beberapa waktu lalu.

Dikatakan Ismed, yang jadi persoalan sekarang ini bagaimana caranya agar profesi jurnalis itu bisa sejajar dengan profesi lainya dan bisa lebih terhormat. Minimal bisa diakui dan dipercaya oleh pihak perbankan, sehingga mudah dalam memberikan kredit.

Dijelaskan Ismed di negara lain seperti halnya Jepang, posisi jurnalis sudah sangat terhormat sejajar dengan kaum birokrat. Sementara di Indonesia kondisi jurnalis masih jauh di bawah profesi lainya utamanya dalam masalah kesejahtraan.

Dengan demikian Ismed mendesak agar Dewan Pers bisa membantu mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi jurnalis saat ini. "Dewan Pers harus bisa mencari jalan bagaimana caranya jurnalis itu bisa lebih sejahtera, atau paling tida bisa diakui oleh pihak perbankan,"katanya.

Sementara itu Anggota Dewan Pers yang juga Ketua Komisi Pembiayaan Organisasi dan Hubungan Antar Lembaga Wikrama I Abidin mengatakan pihaknya akan berupaya agar pihak perbankan mau melirik jurnalis dan memberikan kemudahan dalam penyaluran kredit.

"Kita coba jalin kerjasama dengan pihak perbankan, atau paling tidak menjelaskan bahwa profesi jurnalis itu memiliki masa depan yang bagus dan bisa dipercaya," katanya pada saat memberikan materi pada acara workshop Perbankan Angkatan ke VIII PJI di Bandung beberapa waktu lalu.


Selasa, April 22, 2008

Workshop tentang Inflasi untuk Jurnalis Cetak E-mail
Ditulis Oleh Ainur Rahman

Bandung, PJINEWS.COM - Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) daerah Jawa Barat bekerjasama dengan Dewan Pers menggelar workshop bertemakan inflation target framework di Hotel Permata Garden, Bandung pada Sabtu-Minggu (19-29/4) untuk para 'pemburu berita' atau jurnalis.

Dalam acara yang berlangsung dua hari itu, peserta pelatihan dibekali tentang berbagai persoalan yang berkaiatan dengan inflasi. Mulai persoalan penyebab inflasi secara global hingga dampaknya terhadap perkembangan perekonomian di daerah.

Gubernur Bank Indonesia Hartadi A Sarwono yang hadir sebagai pemateri menjelaskan tentang peranan BI dalam pengendalian inflasi dan akselarasi pembangunan daerah sekarang ini.

Dari survei BI dan Badan Pusat Statistik (BPS), Dalam emapat tahun terakhir, laju inflasi 34 dari 45 kota di Indonesia di atas rata-rata inflasi nasional. Bobot inflasi 34 kota itu sebesar 50,9 persen. Kelompok bahan makanan memberikan kontribusi besar terhadap inflasi.
Sebabnya, lanjut Hartadi ada dua. Pertama, mata rantai distribusi yang terlalu panjang. Kedua, peran tengkulak dalam menentukan harga jual produk pertanian yang terlalu besar.
Selain Hartadi, juga hadir sebagai pemateri Pembina Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Siswono Yudo Husodo yang membeberkan tentang Nasib Indonesia dalam Gejolak Pangan Dunia.
Dalam pemaparannya, menurut Siswono, Indonesia yang saat ini sedang mengalami krisis pangan, bukan karena tidak adanya pangan, tetapi disebabkan empat hal. Pertama, ketergantungan pada pangan impor meningkat. Kedua, kualitas pangan rakyat yang relatif kurang baik. Ketiga, rakyat Indonesia digiring untuk menjadi pemakan roti dan mie yang bahan bakunya dari gandum. Keempat, banyak investor yang mengalihkan arena permainan ke perjudian di bursa komoditas.
Sementara itu, Ekonom dari Universitas Padjajaran Ina Primiana menjelaskan, ketika harga kebutuhan bahan pokok terus melonjak, maka tingkat inflasi makin meningkat. Ketidakstabilan harga tersebut terjadi bukan disebabkan oleh kebijakan moneter, namun ada ketidakberesan dalam kebijakan fiskal dan sektor ril.
"Antara lain, tidak adanya kemandirian pangan dan masih mengandal pada impor, ketidaksiapan input dalam negeri dan ada ketidakpercayaan terhadap produksi dalam negeri oleh pengusaha kita," jelas perempuan berkacamata itu.
Dalam workshop tersebut, para jurnalis juga dibekali bagaimana memilih angle berita dan teknik penulisannya. Yang tak kalah penting, penyegaran terhadap kode etik jurnalistik juga disampaikan oleh Dewan Pers.
Sumber:PJINEWS.COM
Tingkat Inflasi 34 Kota di Atas Rata-rata Nasional
Rantai Distribusi Terlampau Panjang

Senin, 21 April 2008 | 01:22 WIB

Bandung, Kompas - Berdasarkan hasil survei Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik dalam empat tahun terakhir, laju inflasi 34 dari 45 kota di Indonesia di atas rata-rata inflasi nasional. Bobot inflasi 34 kota itu sebesar 50,9 persen. Kelompok bahan makanan memberikan kontribusi besar terhadap inflasi.

Demikian diungkapkan Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A Sarwono dalam Workshop Soal Perbankan dan Inflasi yang diselenggarakan Perhimpunan Jurnalis Indonesia, Sabtu (19/4) di Bandung.

”Beberapa komoditas makanan penyumbang inflasi, antara lain kenaikan harga minyak goreng, cabai merah, dan mi,” ungkap Hartadi.

Menurut dia, pada bulan-bulan mendatang, makanan diperkirakan tetap menjadi penentu utama peningkatan inflasi. Selain itu, minyak tanah dan elpiji turut pula berperan karena tingkat kelangkaannya.
Hartadi mengungkapkan, tekanan inflasi pada kuartal pertama tahun ini disebabkan naiknya harga komoditas di pasar dunia yang berakibat secara global, termasuk pada komoditas pangan dan energi nasional.
Penanganan masalah ini akan lebih efektif jika dilakukan dengan stabilisasi harga komoditas strategis. ”Stabilisasi harga bahan pokok komoditas strategis terbukti efektif mengurangi tekanan inflasi,” ujar Hartadi.
Menurut Hartadi, untuk mencegah laju inflasi dan stabilisasi harga, BI bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik melakukan survei ke sejumlah daerah dan menemukan dua masalah penyebab inflasi di daerah.
Pertama, mata rantai distribusi yang terlalu panjang. Kedua, besarnya peran tengkulak dalam menentukan harga jual produk pertanian.

Tekanan ekonomi

Hartadi mengatakan, dengan harga gabah yang rendah, petani sebenarnya enggan menyerahkan hasil panennya kepada tengkulak. Namun, karena tekanan ekonomi saat ini yang begitu berat, petani akhirnya terpaksa menjual hasil panennya kepada tengkulak.
”Untuk mengatasi masalah ini, Perum Bulog seharusnya tidak menetapkan kualifikasi yang terlalu ketat. Namun, sebagaimana tengkulak yang dapat memainkan harga, Bulog harus menyerap semua hasil panen agar harga terkontrol. Selain itu, untuk mendukung distribusi barang, sarana infrastruktur pun harus dibenahi,” katanya menambahkan.
Dalam rangka peningkatan pertumbuhan nilai ekonomi, BI berkomitmen untuk memberikan masukan kepada pemerintah pusat dan pemda berupa data, analisis, dan segala informasi tentang peluang ekonomi.
Bagi Hartadi, tingginya harga komoditas akhir-akhir ini seharusnya dapat dimanfaatkan oleh pemerintah maupun masyarakat, antara lain dengan melakukan intensifikasi produksi.
Hartadi mencontohkan, produksi minyak Indonesia yang direncanakan dalam APBN 2008 sebesar 1,032 juta barrel per tahun tidak sanggup dipenuhi Pertamina. Tahun ini, Pertamina hanya menyanggupi produksi minyak sebesar 927.000 barrel.
Sebelumnya, pemerintah dan BI telah menetapkan sasaran inflasi untuk tiga tahun ke depan. Sasaran inflasi itu dituangkan dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1 Tahun 2008 tentang Sasaran Inflasi Tahun 2008, 2009, dan Tahun 2010. Sasaran laju inflasi tahun ini adalah 5 persen plus minus 1, inflasi 2009 ditargetkan 4,5 persen plus minus 1, dan tahun 2010 ditetapkan 4 persen plus minus 1. (A01)

Sumber:Kompas

======================================================================

BEWARA ANYAR...
Workshop Sehari
Sosialisasi UU No. 10/2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD
Garden Permata Hotel Bandung, diundurrrr...
peserta pelatihan penggiat politik dan jurnalis se-Jawa Barat

Keynote Speaker : Andi Nurpati (Anggota KPU Pusat), Ferry Mursyidan Baldan (Ketua Pansus UU Pemilu DPR RI), Dr. Dede Mariana (Pengamat Politik UNPAD), Setia Permana (Ketua KPUD Jabar), Anton Minardi (Ketua Panwasda Jabar), S. Leo Batubara (Wakil Ketua Dewan Pers), Budiman Tanuredjo (Redpel KOMPAS), dan unsur-unsur parpol.

Pendaftaran Hubungi :
- Iwa, Sekjen PJI Jabar, 022-70536070, 08888233867,08161136657
email ; iwa@journalist.com, iwamayapada@gmail.com
- Uwa, Ketua PJI Jabar, 081322215384
email ; pjijabar@gmail.com, baladradar@yahoo.com
- Hazmirullah, Bendahara PJI Jabar, 022-76068685

*******************************************************

Sejarah Kelahiran PJI



Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) terlahir di era reformasi. Organisasi pers ini berupaya mengangkat semangat untuk mengisi ruang kebebasan pers yang merupakan alat vital demokrasi, menjadi tonggak kelahirannya. Berlatar belakang untuk mendedikasikan dirinya dalam mewujudkan kehidupan pers yang bebas dan independen dengan tetap berpegang teguh pada moralitas dan prinsip-prinsip profesionalisme sebagai wujud atas cita-cita luhurnya untuk menciptakan kehidupan yang lebih demokratis dan sejahtera.

Era reformasi banyak melahirkan organisasi jurnalis. Sebuah pertanda bahwa lahan subur bagi ketersediaan ruang kebebasan bagi organisasi jurnalis. Akan tetapi nampaknya belum cukup untuk menampung peliknya masalah yang dihadapi profesi jurnalis. Kita semua sadar atas perlunya banyak organisasi profesi untuk mewujudkan idealisme. Kesepakatan membentuk PJI sebagai wadah baru bagi jurnalis terbentuk dalam semangat berbagi untuk memecahkan masalah yang dihadapi jurnalis. Tekad bulat dihimpun dalam suatu pertemuan pada tanggal 15 Januari 2005 di Hotel Sahid Jakarta. Ismed Hasan Putro (Grup Jawa Pos, Pimpinan Redaksi Daulat Rakyat.Com), Fikar W.Eda (Serambi Indonesia –Persada Kompas-Gramedia), Tatang Badru Tamam (Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Ekonomi STABILITAS), Widayat S. Noeswa (Indosiar), Firdanianti (Majalah SWA), Hatim Ilwan (Majalah GATRA), Arief Ardiansyah (Harian KONTAN) dan Teguh Santosa (Rakyat Merdeka). Mereka inilah para pendiri PJI sesuai akta pendirian PJI No 2 Tanggal 11 Januari 2006 pada notaris Meiyane Halimatussyadiah, SH.

Untuk menjalankan roda organisasi Ismed Hasan Putro disepakati sebagai ketua Umum PJI. Sedangkan Fikar W. Eda terpilih sebagai Sekretaris Jendral PJI. Atas pertemuan dan kesepakatan tersebut maka pada tanggal 15 Januari 2005 menjadi tonggak kelahiran PJI.

Langkah penghimpunan kekuatan dan konsolidasi di berbagai daerah lakukan. PJI menggelar serangkaian pelatihan dan diskusi bersama tokoh nasional dan jurnalis. Kegiatan tersebut bukan hanya di Jakarta tetapi juga di berbagai daerah sebagai bentuk kristalisasi masalah yang ada. PJI merasa perlu memperhatikan masalah yang dihadapi jurnalis di daerah.

Tema yang diangkat sebagai respons atas berbagai peristiwa aktual yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi, penberantasan korupsi, kebebasan pers, dan masalah sosial lainnya. Dalam pelaksanaannya, PJI bekerja sama dengan banyak pihak mulai dari Dewan Pers, Bank Indonesia, Lembaga Penjamin Simpanan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan lain-lain. Selain itu, PJI juga terlibat aktif dalam pembahasan Kode Etik Wartawan Indonesia bersama-sama dengan organisasi pers lainnya di bawah koordinasi Dewan Pers.

Seiring dengan semakin solidnya organisasi secara internal, PJI menyadari bahwa masih ada satu langkah lagi untuk lebih maju dalam menjalankan roda organisasi ke depan. PJI perlu menambah dukungan jumlah anggota dari berbagai derah untuk dapat diakui keberadaannya secara resmi oleh Dewan Pers. Meski usaha masih terus dilakukan hingga kini namun PJI tetap selektif dalam memilih anggota dengan berprinsip pada azas keprofesionalan.

Hingga tahun 2007, PJI berkambang di 20 provinsi yaitu DKI Jakarta, Tangerang, Banten, Jawa Barat, DI Yogyakarata, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Naggroe Aceh Darussalam (NAD), Riau, Kepulauan Riau (Kepri), Bagka Belitung (Babel), Jambi, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Artinya setengah dari jumlah provinsi di Indonesia. Rapat Kerja Nasional I PJI , 8-9 Desember 2007 di Hotel Bumi Karsa, Jakarta bisa dilihat sebagai jelmaan eksistensi PJI di era yang hiruk-pikuk ini.

Sadar jika perjuangan belum berakir, semboyan pun diemban. “Jalan memang masih panjang. Samudera harus ditaklukkan. Kami bertekad mencapai pulau harapan. Kami terus berbenah.”

sumber:PJI BALI